BREAKING NEWS
|
JUMAT, 05/06/2026
|
FOLLOW US:

KANAL

REGIONAL

Kategori Berita
Rabu, 01 OKTOBER 2025 • 17:41 WIB

Tragedi Kanjuruhan: Mengingat Hari Kelam bagi Sepakbola Indonesia

Tragedi Kanjuruhan: Mengingat Hari Kelam bagi Sepakbola IndonesiaTragedi Kanjuruhan: Mengingat Hari Kelam bagi Sepakbola Indonesia

Tragedi Kanjuruhan menjadi pengingat mendalam bagi seluruh pecinta sepakbola di Indonesia. Insiden tragis yang merenggut 135 nyawa ini terjadi tiga tahun lalu, tepatnya pada 1 Oktober 2022.

Baca juga: Calvin Verdonk Dekat dengan Klub Prancis Lille

Hari ini dikenang sebagai hari kelam bagi olahraga nasional setelah pertandingan antara Arema FC dan Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan berakhir dengan kerusuhan dan kekacauan.

Kronologi Tragedi Kanjuruhan

Pertandingan Arema FC yang melawan Persebaya Surabaya pada 1 Oktober 2022 berakhir dengan kekalahan 2-3 untuk tuan rumah. Setelah pertandingan usai, sekelompok suporter Arema FC mulai memasuki lapangan, yang memicu kerusuhan saat polisi berusaha membubarkan kerumunan tersebut.

Dalam momen ini, pihak kepolisian terpaksa menggunakan gas air mata untuk mengendalikan situasi. Hal ini menyebabkan penumpukan massa di pintu keluar, mengakibatkan banyak suporter terinjak-injak saat mereka berusaha melarikan diri.

Sekitar 3.000 pendukung Arema, yang dikenal dengan sebutan Aremania, mulai menginvasi lapangan dengan tindakan merusak. Tindakan ini semakin memperburuk keadaan dan menambah kepanikan di kalangan suporter lainnya.

Baca juga: Timnas Putri Indonesia Melaju ke Semifinal Piala AFF U16 Wanita 2025

Penyebab dan Faktor Pendukung Kerusuhan

Investigasi oleh Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) mengungkap bahwa enam jenis senjata gas air mata digunakan oleh pihak keamanan di lokasi kejadian. Temuan lain mencakup gas air mata yang telah kadaluarsa, yang seharusnya tidak digunakan dalam situasi seperti itu.

Media asing, seperti The Washington Post, melaporkan bahwa polisi menembakkan lebih dari 40 peluru gas air mata ke arah kerumunan dalam waktu yang sangat singkat. Tindakan tersebut jelas menambah ketegangan dan mempercepat terjadinya insiden yang merenggut banyak korban jiwa.

Penyelidikan lebih lanjut menunjukkan bahwa seharusnya penggunaan gas air mata dalam keadaan seperti ini sangat dibatasi. Selain itu, langkah-langkah pengelolaan kerumunan yang tepat juga tidak dilakukan dengan benar.

Tuntutan Keadilan oleh Keluarga Korban

Hingga hari ini, keluarga korban tragedi Kanjuruhan terus memperjuangkan keadilan terkait insiden yang mengakibatkan hilangnya nyawa tercinta mereka. Mereka berharap tindakan hukum yang tegas diambil terhadap pihak-pihak yang dianggap bertanggung jawab atas kejadian ini.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, demonstrasi dan berbagai kegiatan sosial terus digelar untuk menarik perhatian publik dan pemerintah mengenai pentingnya keselamatan dalam dunia sepakbola. Tindakan ini bertujuan untuk memastikan bahwa tragedi serupa tidak terulang di masa depan.

Duka yang ditinggalkan oleh tragedi ini tidak hanya meliputi kehilangan jiwa, tetapi juga dampak psikologis yang dialami oleh para penyintas dan masyarakat luas. Penting bagi semua pihak untuk belajar dari peristiwa ini demi keselamatan bersama.

Baca juga: Juventus Awali Serie A 2025/2026 dengan Kemenangan Melawan Parma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

BERITA TERBARU

Tragedi Kanjuruhan: Mengingat Hari Kelam bagi Sepakbola Indonesia

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!