Real Madrid Memecat Xabi Alonso: Ketidakcocokan Kebijakan Jadi Penyebab Utama
Real Madrid telah resmi memecat Xabi Alonso sebagai pelatih, hanya kurang dari satu tahun setelah ia menjabat. Langkah ini diambil setelah adanya perbedaan mendasar dalam kebijakan transfer pemain yang terjadi di dalam tim.
Baca juga: Putri Kusuma Wardani Raih Medali Perunggu di Kejuaraan Dunia BWF 2025
Alonso tidak meminta klub untuk merekrut Franco Mastantuono, tetapi keputusan tersebut semakin menambah ketegangan di dalam skuat yang dipimpinnya.
Xabi Alonso dipecat oleh Real Madrid setelah kurang dari satu tahun mengemban jabatan pelatih. Momen krusial terjadi setelah timnya kalah dari Barcelona di Final Piala Super Spanyol, yang menjadi titik akhir kerja sama tersebut.
Meskipun berhasil melaju ke final, penampilan buruk selama kompetisi membuat manajemen mengakhiri kontrak yang sebelumnya dirasa menjanjikan. Florentino Perez, presiden klub, menilai bahwa performa tim tidak memenuhi ekspektasi yang lebih tinggi.
Terdapat masalah internal saat Alonso berselisih dengan beberapa pemain bintang, yang berdampak pada suasana tim. Ketidakcocokan visi antara pelatih dan pemain semakin membuat lingkungan kerja menjadi tidak nyaman.
Baca juga: Drawing Liga Champions 2025-2026 Digelar di Monako
Salah satu penyebab utama pemecatan Alonso adalah ketidakpuasan terhadap kebijakan transfer yang dijalankan. Ia berharap klub merekrut Martin Zubimendi, gelandang bertahan dari Real Sociedad, dengan biaya klausul 60 juta euro.
Namun, presiden Perez memilih untuk merekrut Franco Mastantuono dari River Plate dengan biaya yang hampir sama, meskipun posisi gelandang serang sudah cukup terisi. Keputusan ini menuai kritik, mengingat Mastantuono hanya berhasil mencetak satu gol dan satu assist dalam 17 pertandingan.
Keputusan transfer yang tidak memberikan dampak positif ini menunjukkan adanya kesenjangan antara harapan pelatih dan realisasi dari manajemen klub.
Alonso juga menghadapi rintangan saat ia berusaha memperpanjang kontrak Luka Modric, yang dianggap penting dalam skuat. Namun, harapannya itu tidak dipenuhi oleh Perez, yang memiliki pandangan lain.
Sementara itu, meskipun Madrid mempunyai Aurelien Tchouameni dan Eduardo Camavinga, kedua pemain tersebut tidak memiliki karakteristik gelandang bertahan yang dicari Alonso. Perbedaan visi ini semakin memperparah ketegangan dalam tim.
Di tengah situasi pelik ini, keputusan untuk memecat Alonso diambil oleh manajemen sebagai upaya untuk mencari solusi atas berbagai permasalahan yang terjadi di dalam tim.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: