Atlet gimnastik asal Israel resmi tidak akan ikut dalam Kejuaraan Dunia Senam Artistik 2025 yang akan digelar di Indonesia, setelah Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) menolak banding dari Federasi Gimnastik Israel (IGF).
Baca juga: Djokovic Melaju ke Semifinal US Open 2025 Setelah Kemenangan Dramatis atas Taylor Fritz
Penolakan banding ini muncul setelah seluruh permohonan visa yang diajukan tim Israel ditolak oleh pihak imigrasi Indonesia.
Keputusan Pengadilan Arbitrase Olahraga
CAS menegaskan bahwa kedua permohonan dari IGF, untuk mendapatkan jaminan partisipasi dan pemindahan kejuaraan, ditolak. 'Permintaan untuk tindakan sementara yang mendesak telah dipertimbangkan oleh wakil presiden Divisi Arbitrase Banding CAS,' ungkap CAS.
Keputusan ini menunjukkan bahwa meskipun ada kekhawatiran dari IGF, hasil akhir tetap tidak menguntungkan bagi mereka dalam mengubah status hukum saat ini.
Ketua Umum Federasi Gimnastik Indonesia, Ita Yuliati, menambahkan bahwa penolakan visa memang berasal dari kebijakan imigrasi. 'Visa mereka (atlet Israel) telah ditolak oleh imigrasi,' kata Ita.
Baca juga: Tantangan Workout 30 Hari Tanpa Alat: Meningkatkan Kebugaran di Rumah
Aspek Diplomatik dan Imigrasi
Situasi ini semakin rumit karena Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, yang mempengaruhi proses permohonan visa. Meskipun terdapat mekanisme untuk pendaftaran visa bagi atlet Israel, itu tergantung sponsor lokal dan tidak selalu mendukung.
Walaupun pengajuan visa jangka pendek dapat diupayakan, tidak ada jaminan bahwa langkah ini akan berhasil membawa atlet Israel ke acara tersebut.
Federasi Internasional Gimnastik (FIG) juga menjelaskan bahwa mereka tidak memiliki kekuatan untuk mengubah kebijakan pemerintah Indonesia terkait penerbitan visa, menunjukkan bahwa keputusan ini murni berada di tangan otoritas imigrasi.
Konsekuensi bagi Kejuaraan Dunia Senam Artistik
Kejuaraan Dunia Senam Artistik 2025 dijadwalkan di Jakarta dari 19 hingga 25 Oktober, dengan kehadiran lebih dari 500 atlet dari 79 negara yang diharapkan. Namun, ketidakhadiran atlet Israel dapat berimplikasi pada proporsi dan dinamika peserta.
Keputusan ini tidak hanya memicu reaksi negatif di kalangan delegasi Israel, tetapi juga menarik perhatian global terhadap isu-isu yang mengganggu penyelenggaraan acara olahraga internasional.
Peristiwa ini menggambarkan secara jelas bagaimana politik dan kebijakan imigrasi dapat mempengaruhi kesempatan bagi atlet dari berbagai negara untuk bersaing di ajang bergengsi.
Baca juga: Menu Sarapan Sehat untuk Petinju: Meningkatkan Performa Latihan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: